wie

Jumat, 29 Maret 2013

Masjid Al-Aqsha

Masjid Al-Aqsha

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS: Al Israa:1).

Masjid Al-Aqsha yang arti harfiahnya "masjid terjauh" adalah salah satu bangunan yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) yang dikenal dengan nama Al-Haram asy-Syarif bagi umat Islam, dan dengan nama Har Ha-Bayit (Bukit Baitallah atau Temple Mount) bagi umat Yahudi dan Nasrani.
Al-Aqsha merupakan tempat suci dari 3 agama (Islam, Kristen, dan Yahudi). Ketiganya meyakini sebagai tempat dimana Ibrahim (Abraham) akan mengorbankan anaknya. Selain itu Islam juga meyakini tempat itu merupakan lokasi, dimana Rasulullah naik ke Sidratil Muntaha selama Isra Mikraj. kompleks Al-Aqsa dengan masjid Qubba Al Sakhrah juga merupakan titik pusat kebanggaan nasional Palestina.
Sedangkan menurut Yahudi, kompleks tersebut berada di atas Gunung Bait Suci, dimana Bait Suci pertama dan kedua diperkirakan berdiri, The Temple Mount (Gunung Bait Suci) adalah situs yang paling suci dalam tradisi Yahudi. Mereka percaya raja Salomon membangun kuil pertama disana 3000 tahun yang lalu dan kemudian dihancurkan Romawi pada tahun 70 Masehi.
Masjid Al-Aqsha awalnya adalah rumah ibadah kecil yang dibangun oleh Khalifah Khulafaur Rasyidin Ummar, lalu diperluas oleh Dinasti Ummayah ketika Khalifah Abdul Malik berkuasa pada tahun 66 H dan selesai tahun 73 H. Agak berbeda dengan pengertian Masjid Al-Aqsa pada peristiwa Isra' Mikraj yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif yang terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerusalem (Baitul Maqdis). Masjid itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Makkah).
Pembangunan masjid yang dilanjutkan Abdul Malik bin Marwan sepenuhnya dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja’ bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.
Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.
Bentuk kubahnya banyak di pengaruhi arsitektur Bizantium. Sejarawan Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42 kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.
Di batu tersebut Nabi Muhammad melakukan mikraj dan sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam). Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Selain itu juga terdapat mihrab-mihrab besar yang jumlahnya mencapai 13 buah.
Batu ini benar-benar ada. Ia berada di wilayah yang sekarang disebut sebagai: Mount Temple atau Gunung Kuil oleh orang Yahudi. Disebut demikian karena mereka mempercayai bahwa Kuil Nabi Sulaiman pernah dibangun di wilayah tersebut. Bahkan sebagian mempercayai kuil tersebut dibangun di atas batu yang sama. Kaum muslimin menyebut wilayah tersebut sebagai Haram al Quds al Syarif atau Kawasan Suci dan Mulia.
Tujuan membangun masjid ini adalah untuk menjaga batu (Shakhrah) yang merupakan tempat Rasulullah berangkat melakukan mikraj ke langit bersama Malaikat Jibril As. Batu itu sendiri berasa dalam lingkaran (haram) Al-Aqsha, dan bukan masjid itu sendiri. Masjid inilah yang sering diduga sebagai masjidil Aqsha.
Kemudian pembangunannya diteruskan putranya Al-Walid pada 705 Masehi. pada tahun 746, masjid ini benar-benar hancur oleh gempa dan dibangun kembali oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mansyur pada 754 dan Al Mahdi pada tahun 780. Gempa lain menghancurkan masjid Al-Aqsha di 1033. Beberapa tahun kemudian dibangun kembali oleh Khalifah Fatimiyah. Az Zahir Ali membangun mesjid lain yang berdiri hingga sekarang.
Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama "Shalahuddin Al-Ayyubi" terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan Jepara, Indonesia.
Keluarga Bani Hasyim, yang masih bertalian darah dengan Nabi Muhammad menurut tradisi merupakan keluarga yang bertanggungjawab memelihara tempat-tempat suci Islam di kawasan tersebut.
Ketika tentara Salib merebut Yurusalem pada tahun 1099 mereka menggunakan masjid sebagai istana dan gereja, tetapi fungsinya sebagai masjid dipulihkan setelah Saladin merebut kembali kota itu.
Hingga sekarang kota lama sarat akan sejarah ini di bawah kendali Israel, namun masjidnya tetap di bawah pimpinan Palestina yang dipimpin wakaf Islam. Meskipun begitu akses masyarakat yang ingin beribadah ditempat itu amat dibatasi oleh otorita Israel, contohnya ketika hendak melakukan ibadah salat jum'at, pihak keamanan Israel hanya mengizinkan mereka yang berusia diatas 50 tahun, hal ini sangat tidak etis dan melanggar HAM untuk beribadah menurut keyakinannya.

v  Data Mengenai Masjid
Literatur Muslim (Al Quran nul Karim) menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw diangkat ke Sidratul Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 Masehi, menjadikan masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra' Mikraj.)
Masjid Al-Aqsa saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah (Dinasti Bani Umayyah)

v 
Pada tahun 1967, Zionis Yahudi menginvasi Palestina dengan cara mendirikan negara Israel di atas Negara Palestina, dengan cara menduduki Palestina. Orang-orang Yahudi ini mengusir bangsa Arab Muslimin yang mendiami tanah Palestina dan mulai memporak-porandakan Masjidil Aqsha. Mereka perlakukan Masjidil Aqsha dengan semena-mena, seperti membebaskan siapa saja untuk masuk ke dalam masjid. Hingga tak jarang, terlihat pemandangan orang Yahudi yang sedang berpacaran di dalam masjid atau para turis yang berkeliaran dengan pakaian seadanya di lingkungan masjid.
Pada tahun 1969, mimbar megah yang dibuat oleh Shalahuddin Al Ayubi di dibakar oleh Yahudi. Peristiwa pembakaran mimbar inilah yang kian meruncingkan barisan umat Muslim guna melawan Yahudi dan mendorong umat Islam sedunia membentuk OKI. Pada tahun 1970, Palestina akhirnya dikuasai sepenuhnya oleh zionis Israel.
Entah sejak kapan, berkembang sebuah fokus perhatian bahwa yang namanya Masjid Al-Aqsa yang diramaikan dan dianggap bersejarah oleh Ummat Islam itu adalah masjid indah dengan Kubah Emas berbentuk segienam ini. Fokus perhatian ini dikembangkan lewat gambar-gambar indah yang beredar, lewat postcard-postcard yang beredar, juga gambar-gambar indah di Kalender Islami dan lewat buku-buku turisme.
Inilah Masjid As-Shakhra yang dimaksud dan sudah sangat terkenal tersebut. Tegasnya, Masjid As-Shakhra bukan Masjid Al Aqsa, jangan keliru. Sebab anak-anak Muslim di seluruh dunia ini sering kali dibingungkan dengan kedua masjid tersebut sehingga akhirnya mereka memiliki referensi yang salah terhadap mana Masjid Al Aqsa yang sebenarnya.
Banyak orang yang pada akhirnya menyangka bahwa Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya adalah masjid dengan Kubah Emas di atasnya (Masjid As-Shakhra), yang berdiri tepat di samping tembok ratapan umat Yahudi. Tembok ratapan umat Yahudi sendiri sesungguhnya adalah Tembok Buraq, yaitu tembok tempat Rasulullah Saw mengikat Buraq, kendaraannya ketika Isra Mikraj. Sekarang tembok ini dikuasai oleh Israel dan dijadikan Tembok Ratapan.
Ada tembok yang memagari kompleks masjidil Aqsha, yang biasa dikatakan Batas Lingkar Komplek Masjidil Aqsha (Harom Masjid Al-Aqsha). Yang disebut kompleks Al-Aqsha adalah daerah yang ada di dalam pagar kotak. Dulu pagar itu hanya terbuat dari tanah. Lalu, pada masa khilafah Utsmaniyah, dibangun tembok karena takut kalau Yahudi mencaplok kompleks (haramul) Masjid Al-Aqsha tersebut.
Ada lagi sebuah keyakinan bahwa Masjidil Aqsha adalah masjid kedua di muka bumi (berkubah hijau). Dibangun oleh Nabi Adam setelah ia membangun Baitul Haram. Lalu bangunannya roboh seiring dengan waktu. Kemudian dibangun kembali oleh Nabi Dawud, dan disempurnakan oleh Nabi Sulaiman.
Masjidil Aqsha inilah yang terus menerus ingin dirobohkan oleh Yahudi, untuk mendirikan di atasnya apa yang mereka dongengkan sebagai Haikal Sulaiman. Salah satu caranya, dengan menyebarkan pengetahuan keliru kepada masyarakat bahwa yang dimaksud dengan Masjidil Aqsha adalah Masjid Qubbah Shakhrah (berkubah kuning) di sebelanya. Meskipun masjid itu masuk dalam kompleks pagar (Harom) Masjidil Aqsha tapi bukan itu masjidnya. Pada saat yang sama diam-diam Yahudi itu menggali Masjidil Aqsha yang sesungguhnya.
Sebelum kesalahanan berkembang pada Ummat Islam dan akhirnya tiada yang menyadari bahwa Masjid Al Aqsa yang sebenarnya telah dihancurkan, ada baiknya kita sebagai generasi Islam tetap hati-hati dan mengabarkan kebenaran yang sebenarnya pada Ummat. Setidaknya, anak-anak kita tahu dan tidak lagi ragu untuk menunjukkan yang manakah masjid Al Aqsa yang asli. Yang benar adalah benar dan yang salah haruslah diperbaiki.

v  Yerusalem Kota Suci Ketiga
Yerusalem memasuki babak baru ketika tentara Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab mulai melakukan ekspansi pertama. Yerusalem. Inilah kota suci ketiga bagi umat Islam, setelah Makkah dan Madinah. Di awal perkembangan agama Islam, Yerusalem menempati posisi yang sangat penting. Selama periode Makkah hingga satu tahun pasca hijrah ke Madinah, kota itu sempat menjadi kiblat pertama bagi umat Islam. Setelah itu, Rasulullah Saw memindahkan arah kiblat ke Masjid Haram, di Makkah.
Pertautan Islam dengan Yerusalem juga tercatat dalam lembaran sejarah yang maha penting, yakni peristiwa isra mikraj Nabi Muhammad Saw. Perjalanan yang dilakukan Rasulullah Saw melalui isra mikraj itu sungguh amat istimewa. Sebab, lewat perjalanan itulah Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat.
Yerusalem pun bertambah istimewa, lantaran di kota itulah beberapa rasul terdahulu menerima wahyu dari Sang Khalik. Syahdan, kali pertama Yerusalem dibangun Nabi Daud As setelah menguasai kota itu dari masyarakat Yebusit. Nabi Daud lalu mengembangkan dan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota kerajaannya.
Tahta kerajaan Nabi Daud lalu digantikan Nabi Sulaiman AS. Di kota itu, Nabi Sulaiman membangun sebuah Haekal atau Harem Syarif (tempat yang mulia) yang lengkap dengan singgasananya. Para ahli sejarah Yahudi menyatakan, Nabi Sulaiman membangun sebuah kuil yang bernama Baitallah.
Haekal atau Baitallah itu menjadi tempat beribadah umat Yahudi pertama yang indah dan megah. Di tengah Haekal itulah terdapat sebuah batu hitam bernama Sakhrah Muqaddasah. Berlandaskan batu itulah, Rasulullah Saw melanjutkan mikraj menghadap Sang pencipta untuk menerima perintah menjalankan shalat.
Pasukan Babilonia menguasai Yerusalem setelah merebutnya dari orang Yahudi. Di bawah kendali dan perintah Raja Babilonia, Nebukadnezar bangunan Haekal dihancurkan. Pada masa itu, Yerusalem terlarang bagi orang Yahudi. Ketika kekuasaan diambil alih Kerajaan Parsi, orang Yahudi kembali bisa memasuki kota itu.
Umat Yahudi pun kembali diizinkan membangun kembali Haekal atau Baitallah yang telah luluh lantak. Bangunan Baitallah yang kedua itu dibangun pada masa kepemimpinan Herodus Yang Agung. Setelah itu, Yerusalem jatuh ke tangan Kerajaan Romawi. Pada masa itu, orang Yahudi melakukan pemberontakan. Lagi-lagi, Haekal atau Baitallah itu diratakan dengan tanah oleh tentara Romawi.
Kaisar Romawi memerintahkan supaya Yerusalem dibangun kembali. Di kota itu dibangun kuil bagi orang Romawi. Orang Yahudi kembali tak diizinkan untuk menjalankan ibadahnya. Bagi Kaisar Constantine dari Kerajaan Bizantium. Yerusalem merupakan tempat yang penting. Constantine menjadikan kota itu sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher pada tahun 335 M.
Yerusalem memasuki babak baru ketika tentara Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab mulai melakukan ekspansi pertama. Umar memerintahkan jenderal perang Muslim, Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menaklukan kepongahan Kerajaan Bizantium. Pada 638 M, Yerusalem dapat ditaklukkan tentara Muslim beserta kota-kota lainnya seperti Mesir, Suriah, Damaskus hingga Maroko.
Secara pribadi, Umar bin Khattab datang langsung ke Yerusalem untuk menerima penyerahan kota itu kepada kekhalifahan Islam. Awalnya, Umar ditawari untuk bersembahyang di dalam Church of the Holy Sepulcher, namun Umar menolak dan meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif.
Umar mendapati tempat itu dalam kondisi kotor. Ia lalu memerintahkan agar tempat itu dibersihkan. Khalifah pun membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al-Aqsa. Setelah itu, pemerintahan Umar membangun Kubah Sakhrah atau yang kemudian dikenal sebagai Kubah Umar.
Di bawah kepemimpinan Umar, kebebasan menjalankan ibadah dihormati. Toleransi antarumat beragama begitu harmonis. Setiap pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya sesuai agama dan keyakinannya secara tenang dan aman. Tak heran, jika kepala rahib Yerusalem amat berterima kasih kepada tentara Islam yang telah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium.

v  Kota Perang
Di bawah kekuasaan Islam, Yerusalem tumbuh begitu pesat. Selain di era Khulafa Ar-Rasyidin, pada masa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina.
Sayangnya kerukunan umat beragama di kota tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi itu akhirnya retak. Saat Al-Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah berkuasa, Gereja Jirat Suci dihancurkan. Konon, kebijakan khalifah inilah yang menjadi salah satu pemantik terjadinya Perang Salib. Yerusalem akhirnya ditaklukkan tentara Perang Salib pada tahun 1099 M dari kekuasaan Khalifah Al-Musta’li.
Umat Islam, Yahudi, dan bahkan Kristen pun dibantai tentara Perang Salib. Tentara Perang Salib ternyata tak bisa membedakan orang Kristen yang tinggal di Yerusalem. Di Yerusalem pun lalu munculah kerajaan Kristen pertama dan Godfrey menjadi raja perdananya. Umat Islam kembali berhasil merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 M di bawah komando pahlawan perang Islam, Salahuddin Al-Ayubi.
Kedamaian kembali tercipta di tanah Yerusalem. Tak ada pembantaian dan semua umat beragama bebas menjalankan keyakinannya. Namun pada tahun 1243, Yerusalem jatuh kembali ke tangan tentara Salib. Pada tahun 1517, Yerusalem kembali dikuasai Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Yerusalem akhirnya terlepas dari genggaman kekuasaan umat Islam setelah Turki kalah dalam Perang Dunia I. heri ruslan

v  Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Sebelum Perang Salib meletus, Yerusalem berada dalam masa kejayaan. Kota itu menjelma menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Tak heran, bila di Yerusalem tersebar begitu banyak madrasah yang melahirkan sederet ilmuwan Muslim terkemuka. Sayang, ke makmuran dan kemajuan itu sirna begitu saja, setelah tentara Perang Salib menghancurkan dan membunuhi penduduk kota suci itu.
Seorang pelancong Muslim, Nasruddin Khusraw pada tahun 1047 M sempat bertandang ke Yerusalem. Ia mencatat, Yerusalem telah mencapai kemajuan beberapa dekade sebelum berkecamuk nya Perang Salib. Menurut Nas ruddin, pada era itu Yerusalem be gitu makmur. Harga barang-barang begitu murah. Kotanya juga begitu indah berhiaskan pasar nan cantik dan gedung-gedung yang tinggi.
Menurut Nasruddin, Yerusalem su dah memiliki sederet seniman dan setiap hasil karyanya me mi liki pasar tersendiri. Jumlah penduduk kota itu pun terbilang be gitu besar. Satu hal yang mem buat Nasruddin terkagum-kagum, di kota itu ternyata sudah berdiri rumah sakit (RS) yang besar. RS yang dikelola de ngan dana wakaf, menggratiskan biaya pengobatan pasien dan membayar dokter dengan gaji yang besar.
Nasruddin juga menuturkan, di kota itu juga berdiri asrama-asrama bagi para Sufi tinggal dan beribadah. Pada era keemasan Islam di Yerusalem, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, namun juga tempat mengembangkan ilmu pengetahun dan kebudayaan Islam. Di sekitar Masjid Al-Aqsa berdiri sejumlah madrasah tempat para pelajar menuntut ilmu.
Beberapa madrasah yang berdiri di Yerusalem itu antara lain, Madrasah Farisiyah yang dibangun Emir Faresuddin Albky. Selain itu ada pula Madrasah Nahriye, Nassiriya, Qataniya, Fakriya, Baladiya dan Tankeziya. Sejumlah wanita asal Turki berada di belakang pembangunan madrasah-madrasah yang berada di sekitar Al-Aqsa.
Menjamurnya madrasah di sekitar Al-Aqsa menandakan aktivitas perkembangan ilmu pengetahuan begitu menggeliat di Yerusalem pada masa kejayaan Islam. Pada abad ke-11 M, di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk beragam aktivitas kebudayaan berkembang di Yerusalem. Sejumlah sarjana dari Barat dan Timur ber tandangdan menetap di kota ini. Mereka ikut ambil bagian untuk memperkaya kehidupan kebudayaan.
Beberapa ilmuwan yang ikut mengembangkan aktivitas kebudayaan dan ilmu pengetahuan itu antara lain; Sha’afiite Nasir bin Ibrahim Al-Maqdisi (1096) yang mengajar di madrasah Nassriyya; Ata al-Maqdisi (Abu’l Fadl); serta Al-Rumali. Abu’l Farradj Abd Al- Waheed juga bermukim di Yerusalem untuk menyebarkan Madzhab Hanbali di Ye rusalem. Dia menulis Kitab al-Djawaher yakni tafsir Alquran.
Selain itu, beberapa ulama lainnya yang tinggal di Yerusalem seperti Abu Fath Nasr, pengarang sejumlah karya. Abu’l Maaly Al-Mucharraf merupakan ilmuwan besar Yerusalem yang menulis kitab Fadail al-Bayt Al-muqaddas wa Asakh ra. Kitab itu mengupas tentang kota beserta sejarahnya. Ulama sekaligus ilmuwan Muslim tersohor, Al-Ghazali (lahir 1058) juga pernah bermukim di kota ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Aku adalah aku, seseorang yang tak pernah lelah mencari tahu sesuatu yang belum pernah aku katahui yang itu harus aku katahui, itulah AKU.