Masjid Al-Aqsha
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS: Al Israa:1).
Masjid Al-Aqsha yang arti harfiahnya "masjid terjauh" adalah
salah satu bangunan yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota
Lama Yerusalem (Yerusalem Timur) yang dikenal dengan nama Al-Haram asy-Syarif
bagi umat Islam, dan dengan nama Har Ha-Bayit (Bukit Baitallah atau Temple
Mount) bagi umat Yahudi dan Nasrani.
Al-Aqsha merupakan tempat suci dari 3 agama (Islam, Kristen, dan Yahudi).
Ketiganya meyakini sebagai tempat dimana Ibrahim (Abraham) akan mengorbankan
anaknya. Selain itu Islam juga meyakini tempat itu merupakan lokasi, dimana
Rasulullah naik ke Sidratil Muntaha selama Isra Mikraj. kompleks Al-Aqsa
dengan masjid Qubba Al Sakhrah juga merupakan titik pusat kebanggaan nasional
Palestina.
Sedangkan menurut Yahudi, kompleks tersebut berada di atas Gunung Bait
Suci, dimana Bait Suci pertama dan kedua diperkirakan berdiri, The Temple Mount
(Gunung Bait Suci) adalah situs yang paling suci dalam tradisi Yahudi. Mereka
percaya raja Salomon membangun kuil pertama disana 3000 tahun yang lalu dan
kemudian dihancurkan Romawi pada tahun 70 Masehi.
Masjid Al-Aqsha awalnya adalah rumah ibadah kecil
yang dibangun oleh Khalifah Khulafaur Rasyidin Ummar, lalu diperluas oleh
Dinasti Ummayah ketika Khalifah Abdul Malik berkuasa pada tahun 66 H dan
selesai tahun 73 H. Agak berbeda dengan pengertian Masjid Al-Aqsa pada
peristiwa Isra' Mikraj yaitu meliputi seluruh kawasan Al-Haram asy-Syarif yang
terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerusalem (Baitul Maqdis). Masjid
itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada
sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Makkah).
Pembangunan masjid yang dilanjutkan Abdul Malik bin Marwan sepenuhnya
dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja’ bin Hayat dari Bitsan dan Yazid
bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.
Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan
kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu
mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang
sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf
yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.
Bentuk kubahnya banyak di pengaruhi arsitektur Bizantium. Sejarawan
Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin
emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42
kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5
meter dan tingginya 1,5 meter.
Di batu tersebut Nabi Muhammad melakukan mikraj dan
sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut
literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam).
Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Selain itu juga terdapat
mihrab-mihrab besar yang jumlahnya mencapai 13 buah.
Batu ini benar-benar ada. Ia berada di wilayah yang
sekarang disebut sebagai: Mount Temple atau Gunung Kuil oleh orang
Yahudi. Disebut demikian karena mereka mempercayai bahwa Kuil Nabi Sulaiman
pernah dibangun di wilayah tersebut. Bahkan sebagian mempercayai kuil tersebut
dibangun di atas batu yang sama. Kaum muslimin menyebut wilayah tersebut
sebagai Haram al Quds al Syarif atau Kawasan Suci dan Mulia.
Tujuan membangun masjid ini adalah untuk menjaga batu
(Shakhrah) yang merupakan tempat Rasulullah berangkat melakukan mikraj
ke langit bersama Malaikat Jibril As. Batu itu sendiri berasa dalam lingkaran (haram)
Al-Aqsha, dan bukan masjid itu sendiri. Masjid inilah yang sering diduga
sebagai masjidil Aqsha.
Kemudian pembangunannya diteruskan putranya Al-Walid pada 705 Masehi.
pada tahun 746, masjid ini benar-benar hancur oleh gempa dan dibangun kembali
oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mansyur pada 754 dan Al Mahdi pada tahun 780. Gempa
lain menghancurkan masjid Al-Aqsha di 1033. Beberapa tahun kemudian dibangun
kembali oleh Khalifah Fatimiyah. Az Zahir Ali membangun mesjid lain yang
berdiri hingga sekarang.
Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong
berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara.
Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama "Shalahuddin Al-Ayyubi" terbakar habis. Dinasti
Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan
Jepara, Indonesia.
Keluarga Bani Hasyim, yang masih bertalian darah dengan Nabi Muhammad
menurut tradisi merupakan keluarga yang bertanggungjawab memelihara
tempat-tempat suci Islam di kawasan tersebut.
Ketika tentara Salib merebut Yurusalem pada tahun 1099 mereka menggunakan
masjid sebagai istana dan gereja, tetapi fungsinya sebagai masjid dipulihkan
setelah Saladin merebut kembali kota itu.
Hingga sekarang kota lama sarat akan sejarah ini di bawah kendali Israel,
namun masjidnya tetap di bawah pimpinan Palestina yang dipimpin wakaf Islam.
Meskipun begitu akses masyarakat yang ingin beribadah ditempat itu amat dibatasi
oleh otorita Israel, contohnya ketika hendak melakukan ibadah salat jum'at,
pihak keamanan Israel hanya mengizinkan mereka yang berusia diatas 50 tahun,
hal ini sangat tidak etis dan melanggar HAM untuk beribadah menurut
keyakinannya.
v Data
Mengenai Masjid
Literatur Muslim (Al Quran nul Karim) menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw diangkat ke Sidratul
Muntaha dari lokasi ini pada tahun 621 Masehi,
menjadikan masjid ini sebagai tempat suci di Islam (lihat Isra' Mikraj.)
Masjid Al-Aqsa saat ini adalah masjid yang dibangun
secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kekhalifahan Umayyah
(Dinasti Bani Umayyah)
v
Pada tahun 1967, Zionis Yahudi menginvasi Palestina
dengan cara mendirikan negara Israel di atas Negara Palestina, dengan cara
menduduki Palestina. Orang-orang Yahudi ini mengusir bangsa Arab Muslimin yang
mendiami tanah Palestina dan mulai memporak-porandakan Masjidil Aqsha. Mereka
perlakukan Masjidil Aqsha dengan semena-mena, seperti membebaskan siapa saja
untuk masuk ke dalam masjid. Hingga tak jarang, terlihat pemandangan orang
Yahudi yang sedang berpacaran di dalam masjid atau para turis yang berkeliaran
dengan pakaian seadanya di lingkungan masjid.
Pada tahun 1969, mimbar megah yang dibuat oleh
Shalahuddin Al Ayubi di dibakar oleh Yahudi. Peristiwa pembakaran mimbar inilah
yang kian meruncingkan barisan umat Muslim guna melawan Yahudi dan mendorong
umat Islam sedunia membentuk OKI. Pada tahun 1970, Palestina akhirnya dikuasai
sepenuhnya oleh zionis Israel.
Entah sejak kapan, berkembang sebuah fokus perhatian
bahwa yang namanya Masjid Al-Aqsa yang diramaikan dan dianggap bersejarah oleh
Ummat Islam itu adalah masjid indah dengan Kubah Emas berbentuk segienam ini.
Fokus perhatian ini dikembangkan lewat gambar-gambar indah yang beredar, lewat
postcard-postcard yang beredar, juga gambar-gambar indah di Kalender Islami dan
lewat buku-buku turisme.

Inilah Masjid As-Shakhra yang dimaksud dan sudah
sangat terkenal tersebut. Tegasnya, Masjid As-Shakhra bukan Masjid Al Aqsa,
jangan keliru. Sebab anak-anak Muslim di seluruh dunia ini sering kali
dibingungkan dengan kedua masjid tersebut sehingga akhirnya mereka memiliki
referensi yang salah terhadap mana Masjid Al Aqsa yang sebenarnya.
Banyak orang yang pada akhirnya menyangka bahwa
Masjid Al-Aqsa yang sebenarnya adalah masjid dengan Kubah Emas di atasnya
(Masjid As-Shakhra), yang berdiri tepat di samping tembok ratapan umat Yahudi.
Tembok ratapan umat Yahudi sendiri sesungguhnya adalah Tembok Buraq, yaitu
tembok tempat Rasulullah Saw mengikat Buraq, kendaraannya ketika Isra Mikraj.
Sekarang tembok ini dikuasai oleh Israel dan dijadikan Tembok Ratapan.
Ada tembok yang memagari kompleks masjidil Aqsha,
yang biasa dikatakan Batas Lingkar Komplek Masjidil Aqsha (Harom Masjid
Al-Aqsha). Yang disebut kompleks Al-Aqsha adalah daerah yang ada di dalam
pagar kotak. Dulu pagar itu hanya terbuat dari tanah. Lalu, pada masa khilafah
Utsmaniyah, dibangun tembok karena takut kalau Yahudi mencaplok kompleks (haramul)
Masjid Al-Aqsha tersebut.
Ada lagi sebuah keyakinan bahwa Masjidil Aqsha adalah
masjid kedua di muka bumi (berkubah hijau). Dibangun oleh Nabi Adam setelah ia
membangun Baitul Haram. Lalu bangunannya roboh seiring dengan waktu. Kemudian
dibangun kembali oleh Nabi Dawud, dan disempurnakan oleh Nabi Sulaiman.
Masjidil Aqsha inilah yang terus menerus ingin
dirobohkan oleh Yahudi, untuk mendirikan di atasnya apa yang mereka dongengkan
sebagai Haikal Sulaiman. Salah satu caranya, dengan menyebarkan pengetahuan
keliru kepada masyarakat bahwa yang dimaksud dengan Masjidil Aqsha adalah
Masjid Qubbah Shakhrah (berkubah kuning) di sebelanya. Meskipun masjid itu
masuk dalam kompleks pagar (Harom) Masjidil Aqsha tapi bukan itu
masjidnya. Pada saat yang sama diam-diam Yahudi itu menggali Masjidil Aqsha
yang sesungguhnya.
Sebelum kesalahanan berkembang pada Ummat Islam dan
akhirnya tiada yang menyadari bahwa Masjid Al Aqsa yang sebenarnya telah
dihancurkan, ada baiknya kita sebagai generasi Islam tetap hati-hati dan
mengabarkan kebenaran yang sebenarnya pada Ummat. Setidaknya, anak-anak kita
tahu dan tidak lagi ragu untuk menunjukkan yang manakah masjid Al Aqsa yang
asli. Yang benar adalah benar dan yang salah haruslah diperbaiki.
v Yerusalem
Kota Suci Ketiga
Yerusalem memasuki babak baru ketika tentara Islam di bawah kepemimpinan
Khalifah Umar bin Khattab mulai melakukan ekspansi pertama. Yerusalem. Inilah
kota suci ketiga bagi umat Islam, setelah Makkah dan Madinah. Di awal perkembangan
agama Islam, Yerusalem menempati posisi yang sangat penting. Selama periode
Makkah hingga satu tahun pasca hijrah ke Madinah, kota itu sempat menjadi
kiblat pertama bagi umat Islam. Setelah itu, Rasulullah Saw memindahkan arah
kiblat ke Masjid Haram, di Makkah.
Pertautan Islam dengan Yerusalem juga tercatat dalam
lembaran sejarah yang maha penting, yakni peristiwa isra mikraj Nabi Muhammad
Saw. Perjalanan yang dilakukan Rasulullah Saw melalui isra mikraj itu sungguh
amat istimewa. Sebab, lewat perjalanan itulah Allah SWT memerintahkan kepada
umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat.
Yerusalem pun bertambah istimewa, lantaran di kota itulah beberapa rasul
terdahulu menerima wahyu dari Sang Khalik. Syahdan, kali pertama Yerusalem
dibangun Nabi Daud As setelah menguasai kota itu dari masyarakat Yebusit. Nabi
Daud lalu mengembangkan dan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota kerajaannya.
Tahta kerajaan Nabi Daud lalu digantikan Nabi Sulaiman AS. Di kota itu,
Nabi Sulaiman membangun sebuah Haekal atau Harem Syarif (tempat yang
mulia) yang lengkap dengan singgasananya. Para ahli sejarah Yahudi menyatakan,
Nabi Sulaiman membangun sebuah kuil yang bernama Baitallah.
Haekal atau Baitallah itu menjadi tempat beribadah umat Yahudi pertama
yang indah dan megah. Di tengah Haekal itulah terdapat sebuah batu hitam
bernama Sakhrah Muqaddasah. Berlandaskan batu itulah, Rasulullah Saw
melanjutkan mikraj menghadap Sang pencipta untuk menerima perintah menjalankan
shalat.
Pasukan Babilonia menguasai Yerusalem setelah merebutnya dari orang
Yahudi. Di bawah kendali dan perintah Raja Babilonia, Nebukadnezar bangunan
Haekal dihancurkan. Pada masa itu, Yerusalem terlarang bagi orang Yahudi.
Ketika kekuasaan diambil alih Kerajaan Parsi, orang Yahudi kembali bisa
memasuki kota itu.
Umat Yahudi pun
kembali diizinkan membangun kembali Haekal atau Baitallah yang telah luluh
lantak. Bangunan Baitallah yang kedua itu dibangun pada masa kepemimpinan
Herodus Yang Agung. Setelah itu, Yerusalem jatuh ke tangan Kerajaan Romawi.
Pada masa itu, orang Yahudi melakukan pemberontakan. Lagi-lagi, Haekal atau
Baitallah itu diratakan dengan tanah oleh tentara Romawi.
Kaisar Romawi memerintahkan supaya Yerusalem dibangun kembali. Di kota
itu dibangun kuil bagi orang Romawi. Orang Yahudi kembali tak diizinkan untuk
menjalankan ibadahnya. Bagi Kaisar Constantine dari Kerajaan Bizantium.
Yerusalem merupakan tempat yang penting. Constantine menjadikan kota itu
sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy
Sepulcher pada tahun 335 M.
Yerusalem memasuki babak baru ketika tentara Islam di bawah kepemimpinan
Khalifah Umar bin Khattab mulai melakukan ekspansi pertama. Umar memerintahkan
jenderal perang Muslim, Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk
menaklukan kepongahan Kerajaan Bizantium. Pada 638 M, Yerusalem dapat
ditaklukkan tentara Muslim beserta kota-kota lainnya seperti Mesir, Suriah,
Damaskus hingga Maroko.
Secara pribadi, Umar bin Khattab datang langsung ke Yerusalem untuk
menerima penyerahan kota itu kepada kekhalifahan Islam. Awalnya, Umar ditawari
untuk bersembahyang di dalam Church of the Holy Sepulcher, namun Umar menolak
dan meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif.
Umar mendapati tempat itu dalam kondisi kotor. Ia lalu memerintahkan agar
tempat itu dibersihkan. Khalifah pun membangun sebuah masjid kayu di tempat
yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al-Aqsa. Setelah itu,
pemerintahan Umar membangun Kubah Sakhrah atau yang kemudian dikenal sebagai
Kubah Umar.
Di bawah kepemimpinan Umar, kebebasan menjalankan ibadah dihormati.
Toleransi antarumat beragama begitu harmonis. Setiap pemeluk agama bisa
menjalankan ibadahnya sesuai agama dan keyakinannya secara tenang dan aman. Tak
heran, jika kepala rahib Yerusalem amat berterima kasih kepada tentara Islam
yang telah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium.
v Kota
Perang
Di bawah kekuasaan Islam, Yerusalem tumbuh begitu pesat. Selain di era
Khulafa Ar-Rasyidin, pada masa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan
kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang
berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur
di Palestina.
Sayangnya kerukunan umat beragama di kota tiga agama, Islam, Kristen, dan
Yahudi itu akhirnya retak. Saat Al-Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan
Fatimiyyah berkuasa, Gereja Jirat Suci dihancurkan. Konon, kebijakan khalifah
inilah yang menjadi salah satu pemantik terjadinya Perang Salib. Yerusalem
akhirnya ditaklukkan tentara Perang Salib pada tahun 1099 M dari kekuasaan
Khalifah Al-Musta’li.
Umat Islam, Yahudi, dan bahkan Kristen pun dibantai tentara Perang Salib.
Tentara Perang Salib ternyata tak bisa membedakan orang Kristen yang tinggal di
Yerusalem. Di Yerusalem pun lalu munculah kerajaan Kristen pertama dan Godfrey
menjadi raja perdananya. Umat Islam kembali berhasil merebut kembali Yerusalem
pada tahun 1187 M di bawah komando pahlawan perang Islam, Salahuddin Al-Ayubi.
Kedamaian kembali tercipta di tanah Yerusalem. Tak ada pembantaian dan
semua umat beragama bebas menjalankan keyakinannya. Namun pada tahun 1243,
Yerusalem jatuh kembali ke tangan tentara Salib. Pada tahun 1517, Yerusalem
kembali dikuasai Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Yerusalem akhirnya terlepas dari
genggaman kekuasaan umat Islam setelah Turki kalah dalam Perang Dunia I. heri
ruslan
v
Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Sebelum Perang Salib meletus, Yerusalem berada dalam masa kejayaan. Kota
itu menjelma menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Tak heran, bila di
Yerusalem tersebar begitu banyak madrasah yang melahirkan sederet ilmuwan
Muslim terkemuka. Sayang, ke makmuran dan kemajuan itu sirna begitu saja,
setelah tentara Perang Salib menghancurkan dan membunuhi penduduk kota suci
itu.
Seorang pelancong Muslim, Nasruddin Khusraw pada tahun 1047 M sempat
bertandang ke Yerusalem. Ia mencatat, Yerusalem telah mencapai kemajuan
beberapa dekade sebelum berkecamuk nya Perang Salib. Menurut Nas ruddin, pada
era itu Yerusalem be gitu makmur. Harga barang-barang begitu murah. Kotanya
juga begitu indah berhiaskan pasar nan cantik dan gedung-gedung yang tinggi.
Menurut Nasruddin, Yerusalem su dah memiliki sederet seniman dan setiap
hasil karyanya me mi liki pasar tersendiri. Jumlah penduduk kota itu pun
terbilang be gitu besar. Satu hal yang mem buat Nasruddin terkagum-kagum, di
kota itu ternyata sudah berdiri rumah sakit (RS) yang besar. RS yang dikelola
de ngan dana wakaf, menggratiskan biaya pengobatan pasien dan membayar dokter
dengan gaji yang besar.
Nasruddin juga menuturkan, di kota itu juga berdiri asrama-asrama bagi
para Sufi tinggal dan beribadah. Pada era keemasan Islam di Yerusalem, masjid
tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, namun juga tempat mengembangkan
ilmu pengetahun dan kebudayaan Islam. Di sekitar Masjid Al-Aqsa berdiri
sejumlah madrasah tempat para pelajar menuntut ilmu.
Beberapa madrasah yang berdiri di Yerusalem itu antara lain, Madrasah
Farisiyah yang dibangun Emir Faresuddin Albky. Selain itu ada pula Madrasah
Nahriye, Nassiriya, Qataniya, Fakriya, Baladiya dan Tankeziya. Sejumlah wanita
asal Turki berada di belakang pembangunan madrasah-madrasah yang berada di
sekitar Al-Aqsa.
Menjamurnya madrasah di sekitar Al-Aqsa menandakan aktivitas perkembangan
ilmu pengetahuan begitu menggeliat di Yerusalem pada masa kejayaan Islam. Pada
abad ke-11 M, di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk beragam aktivitas kebudayaan
berkembang di Yerusalem. Sejumlah sarjana dari Barat dan Timur ber tandangdan
menetap di kota ini. Mereka ikut ambil bagian untuk memperkaya kehidupan
kebudayaan.
Beberapa ilmuwan yang ikut mengembangkan aktivitas kebudayaan dan ilmu
pengetahuan itu antara lain; Sha’afiite Nasir bin Ibrahim Al-Maqdisi (1096)
yang mengajar di madrasah Nassriyya; Ata al-Maqdisi (Abu’l Fadl); serta
Al-Rumali. Abu’l Farradj Abd Al- Waheed juga bermukim di Yerusalem untuk
menyebarkan Madzhab Hanbali di Ye rusalem. Dia menulis Kitab al-Djawaher yakni
tafsir Alquran.
Selain itu, beberapa ulama lainnya yang tinggal di Yerusalem seperti Abu
Fath Nasr, pengarang sejumlah karya. Abu’l Maaly Al-Mucharraf merupakan ilmuwan
besar Yerusalem yang menulis kitab Fadail al-Bayt Al-muqaddas wa Asakh ra.
Kitab itu mengupas tentang kota beserta sejarahnya. Ulama sekaligus ilmuwan
Muslim tersohor, Al-Ghazali (lahir 1058) juga pernah bermukim di kota ini.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar